Singapura 'awasi' buruh migran di asrama

Written By Unknown on Rabu, 15 April 2015 | 17.18

Buruh Migran di Singapura
Lovlu Mia dari Bangladesh tidak bisa memasak ketika baru tiba di Singapura 12 tahun lalu.

Di sebuah asrama terbesar untuk buruh migran, Lovlu Mia memasak chapati yang seperti roti cane di sebuah dapur raksasa.

Pria Bangladesh berusia 36 tahun itu bekerja di proyek konstruksi dengan penghasilan sebesar $720 atau Rp6,8 juta dalam satu bulan.

Sebagian besar dari penghasilannya itu dia kirimkan kepada istri dan anaknya yang berusia lima tahun di kampung halaman.

Dia merupakan salah satu dari ribuan buruh migran yang tinggal di Asrama Tuas View - sebuah kompleks besar di kawasan industri Singapura.

Pada masa lalu, tempat tinggal buruh migran menjadi sasaran kritik dari kelompok HAM. Asrama Tuas View, yang dilengkapi tempat tidur untuk 16.800 orang dan fasilitas medis serta belanja, disebutkan sebagai tempat tinggal ideal bagi mereka.

Fasilitas lengkap

Asrama ini seperti kota kecil, lengkap dengan sebuah mini market, tempat makan, klinik medis dan gigi.

Para majikan membayar tagihan sebesar $220 atau Rp2 juta per bulan untuk sebuah tempat tidur dan loker. Mencuci baju dan membersihkan ruangan dilakukan oleh para pekerja.

Singapura
Para buruh migran harus membubuhkan sidik jari mereka setiap masuk dan keluar asrama

Peralatan olahraga yang lengkap dan kriket juga tersedia. Pada malam hari, para pekerja pria menonton film Bollywood di layar tancap.

Tetapi, meski mereka menikmati fasilitas yang lebih baik di sini, mereka tidak memiliki privasi.

Setibanya di rumah mereka harus membubuhkan sidik jari mereka. Asrama itu juga dipasang kamera pemantau CCTV yang berjumlah 250 buah untuk mengawasi mereka.

"Jika perusahaan bertanya kepada kita, 'Jam berapa dia tiba? Jam berapa dia ke luar? Karena dia tidak masuk kerja, dia 'menghilang', kami dapat memberikan mereka rekamannya," kata V Ranjan, manajer asrama.

Sistem pengawasan itu juga langsung tersambung ke aparat. Artinya, pengurus asrama dapat memasok informasi kepada polisi jika terjadi kejahatan.

Singapura
Kamera pemantau yang berjumlah 250 buah ditempatkan dipenjuru asrama

Sejumlah pendapat menyatakan sistem asrama itu dilatarbelakangi motivasi untuk memisahkan para pekerja dari masyarakat luas. Pada 2013, kerusuhan antara pekerja migran terjadi di Distrik Little India. Mobil polisi dibakar dan diserang kala itu.

Jolovan Wham, dari Organisasi Kemanusiaan untuk Ekonomi Migrasi (HOME), mengatakan dia yakin pemikiran di balik asrama kota itu adalah "untuk membuat (pekerja migran) berada di luar masyarakat sejauh mungkin... jadi kekerasan seperti itu akan lebih kecil terjadi, atau jika terjadi konflik, lebih mudah untuk mengatasinya".

R Subra, konsultan di Tuas View, telah menjalankan bisnis perumahan untuk pekerja selama dua dekade. Dia mengatakan konstruksi asrama besar yang baru itu tidak berkaitan dengan kerusuhan, tetapi kemudian rencana jangka panjang pemerintah bertujuan untuk meningkatkannya.

Tetapi, dia menambahkan, jika para pekerja tersebut disediakan fasilitas yang cukup, mereka tidak akan pergi ke komunitas yang lebih besar selain untuk bekerja.

"Ketika mereka pergi ke lingkungan masyarakat, kemungkinan warga Singapura tidak menerima mereka," kata dia. "Jadi kami berupaya untuk membuat orang-orang ini sebisa mungkin berada di asrama jadi mereka akan merasa bahagia."

Jauh dari kota

Penghuni asrama Tuas View sebagian besar berasal dari India, Bangladesh, China, Myanmar, Thailand dan Filipina. Mereka bekerja di industri kerah-biru seperti konstruksi, pelayaran, minyak dan gas dan farmasi.

Para pekerja, yang tidur 12 orang dalam satu kamar, bebas untuk datang dan pergi sesuka mereka. Tetapi asrama tersebut jauh sekali dari pusat kota.

Singapura
Asrama dilengkapi fasilitas yang lengkap seperti mini market
Sejumlah buruh migran menggunakan fasilitas olahraga di asrama di Tuas View

"Udara di sini sangat segar," kata Gogo Perez, ayah tiga anak yang berasal dari Filipina. "Dan jika Anda ingin latihan Anda memiliki banyak tempat, sebuah gym dan sebuah lapangan bola basket."

Sangat berbeda dengan bagaimana kehidupan banyak pekerja migran lainnya yang menyebar di sejumlah wilayah kota. Kondisi tempat tinggal berbeda tergantung dengan wilayah konstruksinya.

BBC diberikan sebuah video asrama yang dimiliki oleh sebuah pabrik - kondisinya sangat suram, tidak ada kasur, hanya papan kayu. Kami diberitahukan ada 25 orang yang tinggal di sana.

Singapura
Penghuni asrama Tuas View yaitu 16.800 buruh migran

Kelompok advokasi pekerja Transient Workers Count Too (TWC2) memberikan lebih banyak foto yang mengungkapkan kondisi sanitasi yang buruk.

Para pengacara buruh mengatakan tidak adanya privasi bukan sesuatu yang dikeluhkan oleh buruh migran, asalkan mereka tetap dibayar.

Tahun lalu, Singapura memperkenalkan peraturan mengenai kondisi hidup di asrama berskala besar. Juru bicara Kementerian Tenaga Kerja mengatakan kebutuhan para buruh migran asing terhadap asrama yang baik sejalan dengan pembangunan asrama dengan ruangan dan fasilitas rekreasi yang memadai.

Tetapi kritik disampaikan oleh Debbie Fordyce dari TWC2.

"Kami mendengar pemerintah berbicara tentang bagaimana meningkatkan hubungan baik antara pekerja asing, tetapi yang kami lihat adalah mereka ditempatkan di rumah yang jauh dan tampak seperti jenis apartheid."


Anda sedang membaca artikel tentang

Singapura 'awasi' buruh migran di asrama

Dengan url

http://majalahviaonline.blogspot.com/2015/04/singapura-awasi-buruh-migran-di-asrama.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Singapura 'awasi' buruh migran di asrama

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Singapura 'awasi' buruh migran di asrama

sebagai sumbernya

0 komentar:

Posting Komentar

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger