Mengapa perempuan dari Barat bergabung dengan ISIS?

Written By Unknown on Rabu, 08 Oktober 2014 | 17.18

khadijah dare
Khadijah Dare dari London Selatan bersama suami Abu Bakr.

Sekitar 50 sampai 60 perempuan dari Inggris diduga bertolak ke Suriah melalui Turki untuk bergabung dengan kelompok militan ekstremis yang menamakan dirinya Negara Islam atau ISIS.

Pada saat tiba di sana, mereka bergabung dengan perempuan lain yang datang dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Austria, Prancis, Belanda, Kanada, Norwegia dan Swedia.

Mengapa para perempuan dari negara-negara Barat ini mau bergabung dengan ISIS?

Banyak dari kisah para perempuan ini tersedia di media sosial - di Twitter, tumblr, LinkedIn, dan ask.fm.

Dari cerita-cerita ini, jelas terlihat bahwa pengaruh jejaring sosial sangatlah besar.

Jaringan media sosial bukan hanya memberikan nasihat, dukungan dan bantuan untuk melakukan perjalanan, tetapi juga merupakan sumber propaganda bagi ISIS, dengan menampilkan gagasan mengenai betapa idealnya kehidupan Islamis dan jihad.

Gabung dengan suami

Pada awalnya sejumlah perempuan bertolak ke Suriah untuk bergabung dengan suami mereka yang memang sudah bertempur untuk ISIS.

Khadijah Dare - perempuan usia 22 tahun dari daerah selatan London misalnya, yang dikenal karena kicauannya dalam Twitter mengatakan bahwa dia ingin menjadi perempuan pertama yang membunuh sandera Barat - pergi ke Suriah setelah mengatur untuk menikahi petempur ISIS asal Swedia, Abu Bakr.

Dalam kasus seperti ini, keluarga yang menjadi fasilitator penting bagi keberangkatan mereka.

Dalam kasus lainnya, jejaring online yang memfasilitasi perjalanan mereka dan membantu mengkoordinasikan mereka dengan komunitas pendatang asing begitu mereka tiba di tempat tujuan.

Perjalanan internasional mudah diakses dan terjangkau biayanya, sehingga memudahkan perencanaan online ini.

Pengantin jihad

Aqsa Mahmood meninggalkan Skotlandia untuk bergabung dengan ISIS dan mempromosikan terorisme lewat Twitter.

Gagasan tentang "pengantin jihad" yang berangkat ke Suriah untuk menikahi petempur ISIS memang kini sedang ramai disorot di media Barat.

Beberapa keluarga di Prancis yang memiliki anak perempuan yang pergi ke Suriah menerima telepon dari para pria Suriah yang meminta izin menikahi putri mereka, dan akun online dari para pria anggota ISIS kelihatannya juga dibombardir permintaan para wanita yang ingin menjadi istri mereka.

Mia Bloom dari Pusat Studi Terorisme dan Keamanan di Universitas Massachusetts Lowell berargumentasi bahwa perempuan dipandang hanya sebagai "pabrik bayi" dengan tujuan mengisi jumlah penduduk negara Islam "murni" baru.

Namun, hal ini tidak berarti para wanita muda hanya ingin mendapatkan suami. Konsep "pengantin jihad" hanya merupakan sebagian dari cerita yang lengkap.

Ada sisi lain yang juga mendorong mereka memutuskan untuk berangkat ke Suriah.

Perempuan ingin bergabung dengan ISIS karena adanya utopia politik baru - berpartisipasi dalam jihad dan menjadi bagian pembentukan negara Islam yang baru.

Romantisme naif

Romantisme merupakan hal yang banyak tercermin dalam pernyataan para wanita mengenai keterlibatan mereka dalam proyek politik ini dengan versi baru "kehidupan baik" berdasarkan ide Islam dan hukum Syariah.

Anggapan bahwa dunia Barat tidak mampu memberikan kaum Muslim muda perasaan ikut memiliki, tujuan dan nilai sebagai Muslim dan warga negara banyak ditulis dalam pernyataan online para perempuan jihad.

Seorang perempuan asal Belanda bernama Khadija mengatakan bahwa, "Saya selalu ingin hidup di bawah hukum Syariah. Di Eropa hal ini tidak akan terjadi."

Para perempuan ini berbicara tentang kegagalan masyarakat Barat, menceritakan dengan negatif tentang pembatasan yang mereka alami untuk menjalankan agama mereka (misalnya, pelarangan mengenakan burka di Prancis), dan mengkritik sistem politik.

Namun paradoksnya, walau mengutip Al Quran dalam pernyataan mereka, hanya ada sedikit tanda bahwa mereka memang benar-benar memahami tentang konflik yang terjadi, atau bahkan mengenai hukum Syariah atau Islam.

Cerita-cerita yang diungkapkan para wanita yang meninggalkan negara Barat untuk bergabung dengan ISIS di Suriah menggarisbawahi kombinasi alasan politik dan pribadi yang mendasari keputusan mereka, dan sekaligus mengindikasikan motivasi mereka yang diwarnai romantisme naif.


Anda sedang membaca artikel tentang

Mengapa perempuan dari Barat bergabung dengan ISIS?

Dengan url

http://majalahviaonline.blogspot.com/2014/10/mengapa-perempuan-dari-barat-bergabung.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Mengapa perempuan dari Barat bergabung dengan ISIS?

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Mengapa perempuan dari Barat bergabung dengan ISIS?

sebagai sumbernya

0 komentar:

Posting Komentar

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger