Penyair ungkapkan pemberontakan lewat syair

Written By Unknown on Selasa, 22 Oktober 2013 | 17.18

Karima Shabrang

Karima Shabrang mengatakan pemuka desa mengecamnya.

Sejumlah penyair perempuan Afghanistan bertekad mempertahankan kebebasan yang baru dinikmati meskipun mereka menghadapi ancaman mati.

Seperti dilaporkan oleh wartawan internasional BBC Lyse Doucet, penyair-penyair perempuan mengekspresikan pemikiran mendalam di tengah berbagai risiko yang dimuncul di masyarakat Afghanistan.

Para penyair perempuan, lapor Doucet, menyebut puisi sebagai pedang mereka. Secara berkala mereka mengadakan pertemuan di tempat tertutup karena di masyarakat yang konservatif, puisi dianggap menyebarkan pengaruh negatif.

"Kami menggunakan kata-kata murni dan keramat dan mengungkapkan perasaan kami dengan kata-kata itu," kata Pakisa Arzoo, seorang penyair berusia 29 tahun.

"Tetapi saya tahu masyarakat saya meyakini bahwa menulis puisi adalah suatu dosa," jelasnya.

Di bawah payung perkumpulan masyarakat kesusasteraan Mirman Baheer, puluhan perempuan di ibukota Afghanistan, Kabul, bertukar pikiran mengenai puisi karya mereka.

"Mereka mengatakan saya harus disingkirkan. Maksud mereka, saya harus dibunuh."

Mirman Baheer mempunyai cabang-cabang di sejumlah kota lain dan beranggotakan ratusan orang.

"Api perang telah menyala dan membakar negara. Hati saya terbakar di kobaran ini, dan tubuh saya juga terbakar."

Itulah petikan puisi karya Amil, salah seorang penyair Afghanistan.

Sebagian besar penyair perempuan yang berada di Kabul, lapor wartawan internasional BBC Lyse Doucet, berasal dari kalangan terdidik dan mempunyai pekerjaan profesional.

Mereka masih menulis dengan menggunakan nama samaran karena khawatir akan ancaman.

Sebagian lainnya menulis secara diam-diam. Sebagian lainnya dilarang oleh keluarga menghadiri pertemuan Mirman Baheer sehingga mereka membacakan puisi melalui telepon.

Karima Shabrang, seorang penulis asal Provinsi Badakhshan, mengatakan para pemuka desa menganggapnya sebagai penyebar pengaruh buruk melalui puisi-puisinya tentang cinta dan patah hati.

"Mereka mengatakan saya harus disingkirkan. Maksud mereka, saya harus dibunuh," kata Shabrang.

Menyusul ancaman tersebut, dia kemudian diselamatkan oleh kedua kakaknya dan dibawa ke Kabul.


Anda sedang membaca artikel tentang

Penyair ungkapkan pemberontakan lewat syair

Dengan url

http://majalahviaonline.blogspot.com/2013/10/penyair-ungkapkan-pemberontakan-lewat.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Penyair ungkapkan pemberontakan lewat syair

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Penyair ungkapkan pemberontakan lewat syair

sebagai sumbernya

0 komentar:

Posting Komentar

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger